Rosela

Hibiscus sabdarifa Linn.

HERBAL UNTUK DISLIPIDEMIA

Rosela

Hibiscus sabdarifa Linn.

Suku : Malvaceae

 

a.  Nama daerah

Gamet walanda, kasturi roriha, merambos ijo, kesew jawe, asam rejang, asam jarot.

 

b. Bagian yang digunakan

           Kelopak bunga.

 

c. Deskripsi tanaman/simplisia

Tumbuhan berupa semak, tumbuh tegak tinggi dapat mencapai 3 m. Batang berbentuk bulat, berkayu lunak, tegak bercabang-cabang berwarna merah. Daun bentuk bulat telur dengan ujung tumpul dan tepi daun bergerigi. Tangkai bunga keluar dari ketiak daun. Bunga tunggal, kelopak bunga bentuk lanset, berdaging tebal, berwarna merah tua.

 

d. Kandungan kimia

Kelopak bunga mengandung senyawa antosianin, vitamin C, dan B. Kandungan lainnya adalah kalsium, beta karoten serta asam amino esensial. Rosela memiliki banyak unsur kimia yang menunjukkan ektivitas farmakologis. Sebanyak 15-20% merupakan asam-asam tumbuhan yang meliputi asam sitrat, asam malat, asam tartar dan asam (+)-allo-hidroksisitrat.

 

e. Data keamanan

LD50: di atas 5000 mg/kg BB per oral pada tikus. Pada dosis 15 mg/kg BB terlihat ada perubahan kadar albumin, namun pada gambaran histologi tak ada perubahan. Pada pria sehat, dapat menurunkan kadar kreatinin, asam urat, sitrat, tartrat, kalsium, natrium, kalium, dan fosfat pada urin.

 

f. Data manfaat

1. Uji praklinik:

Pemberian ekstrak kering kelopak bunga Hibiscus sabdarifa (rosela) 500 dan 100 mg/kg BB pada tikus dengan diet kolesterol tinggi selama 6 minggu dapat menurunkan kadar kolesterol 22 dan 26%, sedangkan trigliserida turun sebesar 33 dan 28%. Sementara kadar high-density lipoprotein (HDL) tidak terjadi perubahan nyata.

  2. Uji klinik:

Esktrak kering kelopak bunga H.sabdarifa 100 mg/hari selama 1 bulan dapat menurunkan secara nyata kadar kolesterol total dan trigliserida, meningkatkan kadar HDL. Sediaan kapsul diberikan peroral pada 42 sukarelawan dengan umur 18-75 tahun dengan kadar kolesterol 175-327 mg/dL selama 4 minggu. Sukarelawan dibagi 3 kelompok masing-masing memperoleh 1, 2 dan 3 kapsul.

Pada minggu ke-2 terjadi penurunan kadar kolesterol pada ketiga kelompok sekitar 7,08-8,2 % dibandingkan dengan baseline, sedangkan pada minggu ke-4 penurunan terjadi sekitar 8,3-14,4%. Penurunan nyata terlihat pada kelompok 2 yaitu 12% pada 71% sukarelawan.

 

g. Indikasi

Dislipidemia

 

h. Kontraindikasi

Anak. Rosela seharusnya dihindari oleh pasien yang mempunyai riwayat alergi atau hipersensitif terhadap rosela atau kandungannya.

 

i. Peringatan

Gastritis erosif berdasarkan laporan kasus, karena bersifat sangat asam. Pemberian pada dosis tinggi harus hati-hati.

 

j. Efek Samping

Walaupun rosela sering digunakan sebagai teh, data keamanan yang dilaporkan masih terbatas.

 

k. Interaksi

Menurunkan kadar klorokuinolon sehingga tidak berefek. Asetaminofen ditambah dengan pemberian rosela dapat mengubah waktu paruh obat asetaminofen pada sukarelawan. Rosela memiliki aktivitas estrogen meskipun belum ada perubahan klinis yang jelas. Interaksi dapat terjadi dengan senyawa estrogen lain.

 

l. Posologi

2 x 1 tea bag (6 g serbuk)/hari, seduh dalam 1 cangkir air. 1 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)/hari.

 

SUMBER : PMK NO.6 TAHUN 2016 TENTANG FORMULARIUM OBAT HERBAL ASLI INDONESIA