Temulawak
Curcuma xanthorrhiza Roxb.
Suku : Zingiberaceae
a. Nama daerah
Temulawak, koneng gede, temu labak.
b. Bagian yang digunakan
Rimpang.
c. Deskripsi tanaman/simplisia
Perawakan terna berbatang semu, tinggi dapat mencapai 2 m, berwarna hijau atau coklat gelap, rimpang berkembang sempurna, bercabang-cabang kuat, berwarna hijau gelap, bagian dalam berwarna jingga, rasanya agak pahit. Setiap individu tanaman mempunyai 2-9 daun, berbentuk lonjong sampai lanset, berwarna hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap, panjang 31-84 cm, lebar 10-18 cm, panjang tangkai daun (termasuk helaian) 43-80 cm. Perbungaan berupa bunga majemuk bulir, muncul di antara 2 ruas rimpang (lateralis), bertangkai ramping, 10-37 cm berambut, daun-daun pelindung menyerupai sisik berbentuk garus, berambut halus, panjang 4-12 cm, lebar 2-3 cm. Bentuk bulir lonjong, panjang 9-23 cm, lebar 4-6 cm, berdaun pelindung banyak, panjangnya melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga, berbentuk bulat telur sungsang (terbalik) sampai bulat memanjang, berwarna merah, ungu atau putih dengan sebagian dari ujungnya berwarna ungu, bagian bawah berwarna hijau muda atau keputihan, panjang 3-8 cm, lebar 1,5-3,5 cm.
d. Kandungan kimia
Rimpang temulawak mengandung kurkuminoid (0,8-2%) terdiri dari kurkumin dan demetoksikurkumin, minyak atsiri (3-12%) dengan komponen α-kurkumen, xanthorizol, β-kurkumen, germakren, furanodien, furanodienon, ar-turmeron, β-atlantanton, d-kamfor. Pati (30-40 %).
e. Data keamanan
LD50 ekstrak etanol per oral pada mencit: > 5 g/kg BB.
LD50 kurkumin per oral pada tikus dan guinea pig: > 5 g/kg BB.
Uji klinik fase I dengan 28 orang sehat dengan dosis sampai 8000 mg/hari selama 3 bulan tidak menunjukkan efek toksik. Dari lima penelitian pada manusia dengan dosis 1125-2500 mg kurkumin per hari tidak menunjukkan adanya toksisitas.
f. Data manfaat
1. Uji praklinik:
Penelitian efek C. xanthorrhiza terhadap lipid serum dan hepar, HDL-kolesterol dan apolipoprotein (apo) A-I, dan enzim lipogenik hati pada tikus dilakukan dengan memberikan diet bebas kolesterol. C. xanthorrhiza menurunkan kadar trigliserida serum, fosfolipid, kolesterol hati, dan meningkatkan kadar HDL-kolesterol dan apo A-I serum, dan menurunkan aktivitas fatty acid synthase hati. Pada tikus yang diberi diet tinggi-kolesterol, C. xanthorrhiza tidak menekan peningkatan kolesterol serum, walaupun menurunkan kolesterol hati. Kurkuminoid dari C. xanthorrhiza tidak mempunyai efek bermakna pada lipid serum hati.
Efikasi C. xanthorrhiza dalam menurunkan lipid darah dievaluasi pada 40 kelinci yang dibagi menjadi 4 kelompok dan mendapat diet isoaterogenik tanpa curcuma, rendah curcuma (2 g/kg BB), medium curcuma (3 g/ kg BB) dan tinggi curcuma (4 g/kg BB) selama 120 hari. C. xanthorrhiza tidak mempengaruhi makan, konsumsi protein dan lemak dan ekskresi protein (P > 0,05), tetapi secara bermakna (P < 0,05) meningkatkan ekskresi lemak. Kadar kolesterol menurun 46,6 ; 56,4 dan 63,2% dan kadar HDL meningkat 9,9; 14,5 dan 21,9% pada pemberian 2, 3 and 4 g/kg BB curcuma. C. xanthorrhiza menurunkan secara bermakna (P < 0.05) kadar LDL dan (P < 0.01) kadar trigliserida 20,4 ; 28,5 dan 29,5% pada pemberian 2, 3 dan 4 g/kg BB curcuma. Inhibitor reduktase HMG-CoA meningkat secara bermakna (P < 0.05) dengan curcuma. Peroksidasi lipid dicegah pada pemberian 3 dan 4 g/kg BB curcuma. Peningkatan ekskresi lemak dimediasi melalui akselerasi metabolisme lipid dari jaringan ekstrahepatik ke hepar, sehingga meningkatkan ekskresi kolesterol melalui empedu ke dalam feses. C. xanthorrhiza potential sebagai fitoterapi untuk aterosklerosis dan gangguan kardiovaskuler.
2. Uji klinik:
-
g. Indikasi
Dislipidemia. Penurun kolesterol
h. Kontraindikasi
Obstruksi saluran empedu.
i. Peringatan
Hati-hati pada penderita gastritis dan nefrolithiasis.
j. Efek Samping
Hingga saat ini belum ditemukan efek samping yang berarti. Tidak dapat digunakan pada penderita radang saluran empedu akut.
k. Interaksi
Hati-hati menggunakan temulawak bersama dengan antikoagulan.
l. Posologi
2 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)/hari.
SUMBER : PMK NO.6 TAHUN 2016 TENTANG FORMULARIUM OBAT HERBAL ASLI INDONESIA