Timi
Thymus vulgaris (L)/ Thymus zygis (L)
Suku: Lamiace
a. Nama daerah
Timo, teem.
b. Bagian yang digunakan
Daun.
c. Deskripsi tanaman/simplisia
Tanaman tahunan yang sangat aromatik dapat mencapai ketinggian sekitar 40 cm. dengan daun berbentuk tombak, sedikit abu-abu-hijau dan bunga mulai dari putih menjadi merah muda ke ungu. Bentuk bunganya sepintas mirip bunga terompet dengan ukuran lebih mini.
d. Kandungan kimia
Senyawa utama adalah thymol dan carvacrol (> 64%), linalool, p-cymol, cymene, thymene, α-pinene, apigenin, luteolin, dan 6-hydroxyluteolin glycosides, juga di-, tri- dan tetramethoxylated flavones, semua disubstitusi pada posisi 6 (mis. 5,4'-dihydroxy-6,7-dimethoxyflavone, 5,4'-dihydroxy-6,7,3'-trimethoxyflavone and its 8-methoxylated derivative 5,6,4'-trihydroxy- 7,8,3'-trimethoxyflavone).
e. Data keamanan
LD50 ekstrak per oral pada mencit: 0,5-3,0 g/kg BB setara 4,3-26,0 g simplisia kering. LD50 minyak atsiri p.o: 2,84 g/kg BB pada tikus. Diet mengandung daun T. vulgaris 10% pada tikus selama 6 minggu, tidak memperlihatkan efek toksik. LD50 ekstrak etanol dalam 5% Tween 80 pada tikus >5g/kg BB.
f. Data manfaat
1. Uji praklinik:
Studi efek relaksan otot polos traktus respiratorius dilakukan pada cincin trakhea guinea-pigs yang diberi ekstrak air Thymus vulgaris (0,25; 0,5; 0,75 dan 1.0 g %) dibanding kontrol saline dan theophylline (0,25; 0,5; 0,75 dan 1,0 mm). Efek relaksan diuji pada trahea berkontraksi diinduksi KCl 60 mm dan methacholine 10 µm pada 2 kondisi: non-incubated tissues dan incubated tissues dengan 1 µm propranolol dan 1 µm chlorphenamine. Terdapat korelasi bermakna antara efek relaksan dan kadar ekstrak serta theophylline pada semua kelompok eksperimen (p < 0,01 - p < 0,001). Hasil memperlihatkan efek relaksan T. vulgaris yang poten sebanding dengan theophylline.
Penelitian eksperimental menunjukkan minyak atsiri mempunyai aktivitas sekretomotorik, yang dihubungkan dengan ekstrak saponinnya. Juga dilaporkan stimulasi pergerakan silia pada mukosa faring kodok yang diberi solusio minyak timi, thymol atau carvacrol. Diamati juga peningkatan sekresi mukus bronkhus setelah pemberian ekstrak timi.
Studi In vitro menunjukkan bahwa flavone dan ekstrak T. vulgaris menghambat respons agonis reseptor spesifik seperti acetylcholine, histamine dan L-norepinephrine, juga pada agen yang tidak memerlukan reseptor spesifik, seperti barium chloride. Kandungan flavone bekerja sebagai antagonis nonkompetitif dan non-spesifik dan memperlihatkan efek antagonis Ca2+ dan muskulotropik yang bekerja langsung pada otot polos. Eksperimen menunjukkan bahwa efek spasmolitik T. vulgaris disebabkan oleh kandungan polymethoxyflavone.
Bukti eksperimen lain menunjukkan bahwa minyak timi mempunyai aktivitas sekretomotorik yang berhubungan dengan saponin yang diekstrak dari T. vulgaris. Dilaporkan stimulasi pergerakan silia mukosa faring kodok yang diberi minyak timi, thymol atau carvacrol. Pemberian ekstrak timi meningkatkan sekresi mukus dalam bronkhi.
2. Uji klinik:
Studi RCT pada 60 orang dengan batuk produktif karena infeksi traktus respiratorius atas tanpa komplikasi diberi sirup timi (3 x 10 mL/hari, n=31) atau preparat bromhexine (n=29) selama 5 hari. Tidak ada perbedaan bermakna antara sirup timi dan bromhexine pada pelaporan gejala pada terapi hari ke-2 dan ke-5.
Sebuah studi multisenter terbuka (Dentinox 1997, dalam ESCOP (2003), 154 anak usia 2 bulan sampai 14 tahun (rerata 4,4 tahun) dengan bronkhial katar atau bronkhitis diterapi dengan 15-30 mL sirup timi yang mengandung 97,6 mg ekstrak cair timi (2-2,5: 1) per mL, selama 7-14 hari (rerata 7,9 hari); 46 pasien tidak menerima co-medikasi. Dibanding kondisi awal didapat perbaikan intensitas batuk pada 93,5 % pasien.
g. Indikasi
Batuk (ekspektoran) (Grade C).
h. Kontraindikasi
Kehamilan, laktasi.
i. Peringatan
Alergi, sensitivitas silang dengan alergi terhadap seledri dan serbuk sari.
j. Efek Samping
Dermatitis kontak.
k. Interaksi
Belum diketahui.
l. Posologi
Anak lebih besar atau sama dengan 1 tahun dan dewasa: 2 x 1 sendok makan (250 mg ekstrak cair).
SUMBER : PMK NO.6 TAHUN 2016 TENTANG FORMULARIUM OBAT HERBAL ASLI INDONESIA