Daun Sendok

Plantago major (L)/ P. psyllium (L)/ P. lanceolata

HERBAL UNTUK KONSTIPASI

Daun Sendok

Plantago major (L)/ P. psyllium (L)/ P. lanceolata (L)

Suku: Plantaginaceae

 

a.  Nama daerah

Daun urat, otot-ototan, torongoat, ki urat, ekor angin, kuping menjangan, deuli, sangkabuwah, sembung otot, suri panda.

 

b. Bagian yang digunakan

           Daun.

 

c. Deskripsi tanaman/simplisia

Herba semusim tinggi 6-50 cm. Batang pendek, bulat berwarna coklat. Daun tunggal, berbentuk bulat telur sampai lanset, ujung tumpul, pangkal meruncing, tepi rata atau bergerigi tak beraturan, panjang 5-30 cm. lebar 3-10 cm, permukaan licin, tangkai 1-25 cm, pertulangan melengkung, warna hijau muda sampai hijau. Bunga majemuk, bentuk bulir, panjang 40 cm, berwarna putih. Buah panjang 2-4 mm, berisi 6-34 bji berwarna hijau. Biji kecil, ketika muda coklat setelah tua hitam.

 

d. Kandungan kimia

Glycoside aucubin, tannins, mucus, vitamins (vitamin C, provitamin A), ascorbic acid, uronic acid. Dalam biji: steroidal saponins, 44% phlegm, 22% fatty oil, 0,16-0,17% planteozy carbohydrate, 22% protein and 16% amino acids. Daun segar mengandung flavonoid, karbohidrat mannitol, potassium dan citric acid.

 

e. Data keamanan

LD50  per oral: > 4g kg BB pada tikus. LD50  per oral ekstrak air-etanol (1:1) daun: 11,9 g/kg BB pada mencit.

 

f. Data manfaat

1. Uji praklinik:

-

  2. Uji klinik:

Studi pada 50 orang sehat yang diberi diet mengandung serat 8,8 g dari 15 g/hari kulit biji Plantago selama 7 hari, menunjukkan peningkatan viskositas, kelembaban, dan berat feses secara bermakna. Berbeda dengan serat lain yang difermentasi komplit di kolon, komponen ini tidak difermentasi. Gel ini melubrikasi dan memfasilitasi propulsi isi kolon serta feses yang lebih bervolume dan lembab dibanding serat lainnya.

Studi multisenter, random, tersamar ganda, disain paralel dilakukan pada 170 subyek konstipasi kronik idiopatik terdiri dari fase baseline (plasebo) 2 minggu, diikuti fase terapi dengan psyllium (2 x 5,1 g/hari) atau docusate sodium (2 x 100 mg/hari) selama 2 minggu. Psyllium meningkatkan kandungan air dalam feses dibanding baseline vs. docusate (psyllium 2.33% vs. docusate 0,01%, P = 0,007). Psyllium meningkatkan berat feses (psyllium 84,0 g/BM; docusate 71,4 g/BM; P = 0,04), feses total (psyllium 359,9 g/minggu: docusate 271,9 g/minggu; P = 0,005), skor konstipasi objektif (psyllium 475,1; docusate 403,9; P = 0,002). Frekuensi peristalsis (BM) lebih besar secara bermakna pada psyllium (3,5 BM/minggu) vs. docusate (2,9 BM/minggu) (P = 0,02), dan tidak ada perbedaan bermakna antara ke-2 jenis terapi (P > 0,05) (3,3 vs. 3,1 BM/minggu). Disimpulkan bahwa Psyllium superior dari docusate sodium untuk melembutkan feses dengan meningkatkan kandungan air, dan merupakan laksan yang efektif pada subjek dengan konstipasi kronik idiopatik

 

g. Indikasi

Konstipasi (Grand B).

 

h. Kontraindikasi

Kehamilan, laktasi, obstruksi usus, alergi.

 

i. Peringatan

Anak < 6 tahun (harus dengan supervisi dokter).

 

j. Posologi

3 x 1 sachet (2 g serbuk)/hari.

 

SUMBER : PMK NO.6 TAHUN 2016 TENTANG FORMULARIUM OBAT HERBAL ASLI INDONESIA