Jati Belanda
Guazuma ulmifoliae Lamk.
Suku : Sterculiaceae
a. Nama daerah
Jati londo; Jati sabrang
b. Bagian yang digunakan
Daun
c. Deskripsi tanaman/simplisia
Tanaman pohon, tinggi lebih kurang 10 meter. Batang keras, bulat, permukaan kasar, banyak alur, berkayu, bercabang, warna hijau keputih-putihan. Daun tunggal, bulat telur, permukaan kasar, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal berlekuk, pertulangan menyirip, panjang 10-16 cm, lebar 3-6 cm, warna hijau. Bunga tunggal, bulat di ketiak daun, warna hijau muda. Buah kotak, bulat, keras, permukaan berduri, warna hitam.
d. Kandungan kimia
Tanin, Lendir, Zat pahit, damar, 0,2% kamferetin, kuersetin & kaemferol, daunnya mengandung 0.09-0.14% alkaloid. Bunga segar jati belanda mengandung 0,2% kamferetin, kuersetin dan kaemferol, daunnya mengandung 0,09-0,14% alkaloid, lendir, dammar, flavanoid, saponin dan tannin. Hasil analisis GC/MS minyak atsiri daun menunjukkan adanya komponen utama prekosen I (56,0%), β-kariofilen (13,7%), dan (2Z,6E)-farnesol (6,6%).
e. Data keamanan
LD50 : 6324,14 mg/kg BB (tikus, per oral). Pemberian ekstrak kering daun jati belanda dosis 2 g/kg BB, 4 g/kg BB dan 8 g/kg BB pada tikus jantan sekali sehari selama 3 bulan tidak menaikkan kadar keratinin dan urea plasma serta ukuran diameter rata-rata glomerulus ginjal tikus. Hasil pengamatan mikroskopik preparat histologi ginjal juga tidak memperlihatkan adanya perbedaan dengan kelompok kontrol tanpa perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian jangka panjang daun jati belanda tidak menganggu fungsi ginjal. Uji serupa telah dilakukan pula terhadap granul kering daun jati belanda dengan kesimpulan yang sama yaitu tidak mempengaruhi fungsi ginjal.
Uji mutagenik ekstrak etanol 50% daun jati belanda telah dilakukan dengan metode Ames menggunakan lima galur bakteri Salmonella typhi yang telah dimutasikan dan tanpa aktivator metabolik. Hasil penelitian yang memperlihatkan bahwa ekstrak etanol daun jati belanda tidak bersifat mutagen, yang ditunjukkan dengan tidak terjadinya mutasi DNA dan kerusakkan kromosom bakteri uji.
f. Data manfaat
1. Uji Praklinik:
Studi pada 30 tikus dengan BB 150-200 g dibagi secara acak menjadi 5 kelompok. Kelompok I mendapat ekstrak etanol daun 10% dengan dosis 0,5 mL/200 g BB/hari, kelompok II ekstrak etanol 20% dan kelompok III ekstrak etanol 30%, kelompok IV mendapat 2 mL aquades, kelompok V mendapat orlistat (inhibitor lipase) 2,16 mg/200 g BB /hari, selama 30 hari. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun jati belanda 10, 20, dan 30% serta orlistat mampu menurunkan aktivitas lipase pankreas secara nyata, berturut-turut sebesar 8,33±9,27; 9,33±6,34; 15,33±7,61; dan 13,33±7,33 IU/L. Pada kelompok kontrol negatif justru terjadi peningkatan aktivitas enzim lipase sebesar 15,17±14,79 IU/L. Disimpulkan ekstrak etanol daun jati belanda menurunkan aktivitas serum lipase secara bermakna (p < 0,05).
2. Uji Klinik:
Penelitian kuasi eksperimental dengan disain pre dan postes, pada 30 penderita obesitas yang memperoleh perlakuan pemberian ekstrak daun jati belanda. Data yang diukur adalah berat badan. Hasil penelitan menunjukkan bahwa adanya penurunan berat badan penderita obesitas sesudah pemberian ekstrak daun jati belanda. Rata-rata sebelum perlakuan berat badan penderita 75,5 kg dan sesudahnya 73,9 kg. ( p< 0.05).
g. Indikasi
Obesitas
h. Kontraindikasi
Kehamilan, laktasi dan anak
i. Peringatan
Konsumsi yang berlebihan mengakibatkan kerusakan usus karena tingginya kandungan tanin.
j. Efek Samping
Kemungkinan dapat terjadi diare karena iritasi lambung.
k. Interaksi
Dapat menghambat absorpsi obat lain yang diberikan secara bersamaan.
l. Posologi
3 x 1 tea bag (5 g serbuk)/hari, seduh dalam 1 cangkir air.
SUMBER : PMK NO.6 TENTANG FORMULARIUM OBAT HERBAL ASLI INDONESIA